Dulu, ancaman siber pada bank identik dengan hacker yang mencoba membobol sistem dari luar. Namun sekarang situasinya berubah. Ancaman terbesar justru bisa datang dari orang yang sudah memiliki akses resmi ke dalam jaringan perusahaan. Mereka terlihat seperti karyawan biasa, punya akun resmi, laptop kantor, bahkan lolos proses rekrutmen. Inilah yang disebut sebagai ancaman “insider threat” modern.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan di dunia perbankan dan keamanan siber global. Para penyerang tidak lagi selalu mencoba meretas dari luar, tetapi masuk melalui jalur yang sah dan legal. Ketika sudah berada di dalam sistem, mereka bisa bergerak bebas tanpa mudah terdeteksi.
Ancaman Baru yang Sedang Terjadi
Pada Maret 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengungkap bahwa pekerja IT asal Korea Utara berhasil menghasilkan hampir 800 juta dolar AS dengan bekerja di perusahaan-perusahaan Amerika menggunakan identitas palsu. Mereka diterima sebagai karyawan remote, mendapat akses resmi ke sistem perusahaan, dan bekerja layaknya pegawai normal.
Masalahnya, uang tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas militer dan politik Korea Utara.
Di waktu yang hampir bersamaan, Iran juga menyatakan bahwa bank-bank Amerika menjadi target serangan mereka. Kelompok hacker yang terkait dengan Iran menggunakan akun administrator yang dicuri untuk menghancurkan sistem perusahaan menggunakan malware tipe “wiper”, yaitu malware yang dirancang untuk menghapus data dan melumpuhkan operasional perusahaan.
Yang membuat situasi ini berbahaya adalah para penyerang tidak selalu membobol sistem secara paksa. Mereka menggunakan akses yang memang diberikan oleh perusahaan.
Kenapa Ini Berbeda dari Serangan Hacker Biasa?
Pada serangan tradisional, hacker biasanya mencoba menembus firewall, mencuri password, atau mengeksploitasi celah keamanan.
Namun dalam kasus ini, penyerang sudah memiliki:
-
Username dan password resmi
-
Laptop perusahaan
-
Hak akses yang valid
-
Identitas yang terlihat legal
Karena terlihat seperti pengguna normal, aktivitas mereka jauh lebih sulit dikenali.
Bayangkan ada seseorang yang masuk ke kantor menggunakan kartu akses resmi. Satpam tentu tidak akan curiga. Padahal orang tersebut sebenarnya memiliki niat jahat.
Inilah tantangan baru bagi industri perbankan.
Sistem Keamanan Lama Tidak Lagi Cukup
Banyak bank selama ini fokus melindungi “pintu masuk” sistem mereka, misalnya dengan:
-
Firewall
-
Antivirus
-
Multi-factor authentication
-
Monitoring transaksi mencurigakan
Masalahnya, semua sistem itu dirancang untuk menghentikan ancaman dari luar.
Jika penyerang sudah berada di dalam jaringan menggunakan akun resmi, maka perlindungan tradisional menjadi kurang efektif.
Sebagai contoh:
-
Sistem fraud mungkin bisa mendeteksi transaksi aneh
-
Tetapi tidak bisa mendeteksi karyawan palsu yang sedang mempelajari sistem internal
-
Firewall bisa memblokir hacker luar
-
Tetapi tidak bisa menghentikan administrator resmi yang menyalahgunakan akses
Artinya, ancaman saat ini bukan hanya soal “siapa yang masuk”, tetapi juga “apa yang dilakukan setelah masuk”.
Bahaya Pergerakan di Dalam Jaringan
Dalam dunia keamanan siber ada istilah “lateral movement”, yaitu ketika penyerang bergerak dari satu sistem ke sistem lain di dalam jaringan perusahaan.
Misalnya:
-
Penyerang masuk menggunakan akun resmi
-
Mengakses server internal
-
Mencari data penting
-
Menyebarkan malware
-
Mengambil alih sistem lain
Jika tidak ada pembatasan akses yang baik, satu akun saja bisa menjadi jalan untuk melumpuhkan seluruh perusahaan.
Inilah yang terjadi pada banyak serangan besar saat ini.
Regulasi Mulai Menekan Industri Perbankan
Pemerintah dan regulator kini mulai menyadari ancaman ini.
Pada Maret 2026, New York State Department of Financial Services (NYDFS) mengirim surat resmi kepada seluruh bank yang mereka awasi. Mereka meminta bank meningkatkan tiga hal penting:
1. Least Privilege Access
Artinya setiap pengguna hanya boleh memiliki akses minimum sesuai pekerjaannya.
Contoh:
-
Staff HR tidak perlu akses ke database keuangan
-
Customer service tidak perlu akses server administrator
Tujuannya agar jika satu akun disalahgunakan, dampaknya tidak meluas.
2. Monitoring Aktivitas Tidak Wajar
Bank harus mampu mendeteksi aktivitas mencurigakan meskipun dilakukan oleh pengguna resmi.
Misalnya:
-
Login dari lokasi aneh
-
Download data besar secara tiba-tiba
-
Akses sistem yang tidak biasa
3. Pengujian Ketahanan Operasional
Perusahaan harus rutin menguji apakah sistem keamanan mereka benar-benar mampu membatasi penyebaran serangan.
Bukan sekadar punya tools keamanan, tetapi memastikan tools tersebut benar-benar bekerja saat terjadi insiden.
Tantangan Terbesar Ada di Proses Rekrutmen
Salah satu masalah utama adalah proses perekrutan karyawan sering dianggap bukan bagian dari keamanan siber.
Padahal di sinilah akses pertama diberikan.
Jika perusahaan salah merekrut orang atau gagal memverifikasi identitas dengan benar, maka ancaman sudah masuk sebelum sistem keamanan bekerja.
Banyak perusahaan terlalu fokus melindungi teknologi, tetapi lupa melindungi proses bisnis yang memberikan akses ke teknologi tersebut.
Apa yang Harus Dilakukan Bank?
Untuk menghadapi ancaman baru ini, bank perlu mengubah cara berpikir mereka.
Fokus keamanan tidak lagi hanya:
-
Mencegah hacker masuk
Tetapi juga:
-
Membatasi gerakan mereka setelah masuk
-
Memantau aktivitas internal
-
Mengurangi dampak jika terjadi penyusupan
Strategi modern yang mulai banyak digunakan adalah:
-
Zero Trust Security
-
Segmentasi jaringan
-
Monitoring perilaku pengguna
-
Deteksi ancaman real-time
-
Pembatasan akses otomatis
Tujuannya sederhana: jika ada penyerang di dalam sistem, mereka tidak bisa bergerak bebas.
Kesimpulan
Ancaman siber terhadap bank kini memasuki era baru. Penyerang tidak selalu datang dari luar dengan cara meretas. Mereka bisa masuk melalui jalur resmi, menggunakan identitas valid, bahkan bekerja sebagai karyawan perusahaan.
Ini membuat ancaman menjadi jauh lebih sulit dideteksi.
Karena itu, industri perbankan harus mulai fokus pada pengendalian akses internal, pemantauan aktivitas pengguna, dan pembatasan pergerakan di dalam jaringan.
Di era modern, pertanyaan utamanya bukan lagi:
“Bagaimana mencegah hacker masuk?”
Tetapi:
“Jika penyerang sudah masuk, seberapa jauh mereka bisa bergerak sebelum dihentikan?”
illumio Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi illumio.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
