Ancaman Orang Dalam yang Semakin Berbahaya di Dunia Perbankan: Ketika Akses Resmi Menjadi Senjata Serangan Siber

Selama bertahun-tahun, bank dan lembaga keuangan berfokus pada ancaman dari luar. Mereka membangun firewall, sistem deteksi serangan, dan berbagai lapisan keamanan untuk mencegah hacker masuk ke dalam jaringan perusahaan. Namun kini muncul ancaman baru yang jauh lebih sulit dideteksi: pelaku yang sudah berada di dalam sistem dengan akses yang sah dan resmi.

Yang membuat ancaman ini semakin berbahaya adalah motivasinya tidak selalu berupa pencurian uang. Dalam beberapa kasus, tujuan mereka adalah spionase, sabotase, atau bahkan kepentingan politik dan militer.

Ancaman yang Tidak Lagi Datang dari Luar

Pada tahun 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengungkap bahwa pekerja TI asal Korea Utara berhasil menghasilkan hampir 800 juta dolar AS dengan bekerja secara legal di berbagai perusahaan Amerika Serikat menggunakan identitas palsu.

Mereka berhasil melewati proses rekrutmen, lolos pemeriksaan latar belakang, menerima laptop perusahaan, dan mendapatkan akun resmi untuk mengakses sistem internal perusahaan. Dana yang diperoleh kemudian diduga digunakan untuk mendukung aktivitas militer dan politik Korea Utara.

Di waktu yang hampir bersamaan, pemerintah Iran secara terbuka menyatakan bahwa bank-bank Amerika menjadi target strategis mereka. Kelompok peretas yang terkait dengan Iran menggunakan kredensial administrator yang dicuri untuk mengakses sistem perusahaan dan menghancurkan data menggunakan malware jenis “wiper”, yaitu malware yang dirancang untuk menghapus data dan melumpuhkan operasional perusahaan.

Dalam kedua kasus tersebut, pelaku tidak perlu membobol pertahanan keamanan dari luar. Mereka menggunakan akses yang sudah diberikan atau kredensial yang sah untuk masuk ke dalam sistem.

Ketika Akses Resmi Menjadi Jalur Serangan

Banyak organisasi masih beranggapan bahwa jika seseorang memiliki akun resmi dan telah lolos proses verifikasi, maka orang tersebut dapat dipercaya.

Sayangnya, asumsi tersebut tidak selalu benar.

Pada konferensi keamanan siber RSA Conference 2026, Chief Technology Risk Officer Capital One menjelaskan bahwa sejumlah pelaku dari Korea Utara berhasil mendapatkan pekerjaan jarak jauh di institusi keuangan Amerika menggunakan identitas warga Amerika yang dicuri.

Karena mereka terlihat sebagai karyawan biasa, aktivitas mereka sulit dibedakan dari pengguna normal. Mereka bekerja seperti biasa, mengikuti prosedur perusahaan, dan perlahan-lahan mengumpulkan informasi penting atau memperluas akses mereka ke berbagai sistem.

Inilah yang disebut sebagai ancaman insider atau ancaman dari dalam.

Titik Lemah yang Sering Terlupakan

Banyak bank telah menginvestasikan dana besar untuk melindungi jaringan mereka dari serangan eksternal. Namun, mereka sering melupakan proses yang menentukan siapa yang mendapatkan akses ke jaringan tersebut.

Proses perekrutan, pemberian akun, serta pemberian hak akses sering kali dianggap sebagai tanggung jawab divisi SDM atau operasional, bukan bagian dari strategi keamanan siber.

Akibatnya muncul celah yang berbahaya.

Jika seorang pelaku berhasil masuk sebagai karyawan atau mendapatkan akun resmi, maka sebagian besar sistem keamanan tradisional tidak akan menganggapnya sebagai ancaman.

Masalah ini bukan semata-mata masalah teknologi, melainkan masalah tata kelola atau governance.

Mengapa Sistem Keamanan Lama Tidak Cukup?

Sebagian besar sistem keamanan perbankan saat ini dirancang untuk mendeteksi aktivitas keuangan yang mencurigakan, seperti:

  • Transfer dana dalam jumlah besar yang tidak biasa

  • Transaksi dari lokasi yang berbeda

  • Aktivitas rekening yang tidak sesuai pola normal

Namun bagaimana jika pelaku tidak mencuri uang?

Bagaimana jika tujuan mereka adalah mengumpulkan informasi, memetakan sistem internal, atau menyiapkan sabotase di masa depan?

Dalam kondisi seperti ini, sistem pemantauan transaksi tidak akan mendeteksi apa pun karena tidak ada aktivitas keuangan yang mencurigakan.

Begitu pula dengan firewall dan sistem keamanan jaringan. Jika pelaku sudah memiliki akun administrator atau akses resmi, maka mereka dapat bergerak bebas di dalam jaringan tanpa memicu alarm keamanan.

Fokus Baru: Membatasi Pergerakan di Dalam Jaringan

Karena ancaman kini berasal dari pengguna yang memiliki akses sah, strategi keamanan harus berubah.

Alih-alih hanya berfokus mencegah pelaku masuk, organisasi juga harus mampu membatasi pergerakan mereka setelah berhasil masuk.

Konsep ini dikenal sebagai lateral movement containment, yaitu kemampuan untuk mencegah pelaku berpindah dari satu sistem ke sistem lainnya di dalam jaringan perusahaan.

Tujuannya adalah membatasi dampak jika terjadi kompromi akun atau penyalahgunaan akses.

Apa yang Disarankan Regulator?

Departemen Layanan Keuangan Negara Bagian New York (NYDFS) pada tahun 2026 mengeluarkan panduan kepada seluruh institusi keuangan yang mereka awasi.

Terdapat tiga fokus utama yang harus diterapkan:

1. Prinsip Least Privilege

Setiap pengguna hanya diberikan akses yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya.

Semakin sedikit akses yang dimiliki seseorang, semakin kecil risiko kerusakan jika akun tersebut disalahgunakan.

2. Pemantauan Aktivitas yang Tidak Sah

Organisasi harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan di dalam jaringan, termasuk pergerakan pengguna antar sistem yang tidak sesuai dengan tugas mereka.

3. Pengujian Ketahanan Operasional

Perusahaan perlu menguji apakah sistem keamanan mereka benar-benar mampu menghadapi serangan nyata, bukan hanya terlihat aman di atas kertas.

Pertanyaan Penting untuk Setiap Bank

Saat ini pertanyaan terpenting bukan lagi:

“Bagaimana cara mencegah semua serangan masuk?”

Melainkan:

“Jika ada pengguna yang memiliki akses resmi dan mulai bergerak di dalam jaringan saat ini juga, seberapa jauh mereka bisa melangkah sebelum terdeteksi?”

Semakin cepat organisasi dapat menjawab pertanyaan tersebut, semakin siap mereka menghadapi ancaman modern.

Kesimpulan

Ancaman siber terhadap bank dan lembaga keuangan telah berubah secara signifikan. Pelaku tidak lagi selalu mencoba membobol sistem dari luar. Mereka bisa masuk melalui jalur yang sah, menggunakan identitas resmi, akun yang valid, atau kredensial yang dicuri.

Karena itu, keamanan modern tidak cukup hanya berfokus pada pencegahan akses. Organisasi harus mampu mendeteksi aktivitas mencurigakan dari pengguna yang sudah berada di dalam jaringan serta membatasi ruang gerak mereka.

Di era ancaman siber yang semakin kompleks, kepercayaan tidak boleh diberikan hanya karena seseorang memiliki akun resmi. Setiap akses harus terus dipantau, diverifikasi, dan dibatasi sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan tersebut, bank dan organisasi dapat membangun pertahanan yang lebih kuat terhadap ancaman orang dalam yang semakin berbahaya.

illumio Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi illumio.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.